Melalui Hibernasi Sel Hewan Peneliti Belajar Mengawetkan Organ Donor

Beberapa sel hewan memang mempunyai cara yang jitu untuk menghadapi datangnya musim dingin yang sama sekali tidak bersahabat. Seperti beberapa hewan yang melakukan hibernasi atau tidur panjang. Sepanjang musim dingin, hewan-hewan tersebut akan tidur dan menurunkan suhunya hingga mencapai titik beku atau nol derajat celcius.

sel hewan

sel hewan

Selain itu hewan-hewan yang melakukan hibernasi juga akan menurunkan detak jantungnya dramatis. Mengenai bagaimana hewan-hewan tersebut melakukan hibernasi memang sudah cukup lama diminati oleh para peneliti. Bahkan sekarang ini beberapa peneliti juga mencoba mengetahui rahasia dibalik hibernasi hewan untuk membantu majunya teknologi medis.

Hanya dengan mengetahui bagaimana sel hewan ketika melakukan hibernasi bisa bertahan dalam suhu dingin tersebut juga bisa membantu para peneliti untuk menyimpan organ donor milik manusia yang sedang menunggu transplantasi sedikit lebih lama lagi. Sehingga organ donor tersebut tidak cepat mengalami kerusakan.

Adaptasi Dingin Saat Hibernasi

Bukan hanya itu saja, penelitian ini juga akan membantu peneliti untuk membuat terapi hipotermia induksi mengalami peningkatan. Kondisi dimana suhu tubuh seseorang akan sengaja diturunkan setelah mengalami cidera otak atau bahkan serangan jantung. Dengan terapi hipotermia induksi ini bisa membantu melindungi otak, namun dengan efek samping rusaknya sel karena suhu dingin.

Menurut salah satu peneliti, kemungkinan untuk memperluas dan juga meningkatkkan aplikaasi untuk hipotermia menggunakan induksi nantinya bisa dilakukan dengan cara memahami bagaimana sel hewan beradaptasi dengan suhu dingin saat melakukan hibernasi. Selain itu juga mungkin membuat organ donor sebelum transplantasi bisa bertahan lebih lama lagi.

Untuk informasi yang harus anda ketahui saja, bahwa organ donor misalnya saja ginjal sebelum jaringan memburuk, maka hanya akan bisa disimpan selama kurang dari 30 jam. Agar mengetahui lebih lanjut masalah hibernasi pada hewan, maka peneliti melakukan studi untuk tupai tanah yakni hewan pengerat yang berasal dari Amerika Utara.

Para peneliti mengungkap bawa selama masa hibernasi tupai tanah akan menurunkan suhu tubuh secara dramatis hingga nol derajat celcius atau titik beku dan menurunkan detak jantung menjadi 20 denyut tiap menitnya dari sebelumnya sekitar 200 denyut tiap menit. Hal ini membuat para peneliti merasa tertarik.

Mitokondria Merespon Suhu Dingin Dengan Berbeda

Apalagi pada struktur sel hewan yang disebut sitoskeleton mikrotubulus. Sebuah jaringan yang ada pada tabung kecil dan memberi dukungan secara struktural menuju sel dan sangat rentan terhadap suhu dingin. Kemudian para peneliti juga membandingkannya dengan sel yang ada pada manusia

Hasil yang didapaykan ialah sitoskeleton mikrotubulus pada tupai tanah masih tetap utuh walaupun mendapat suhu dingin sekalipun, berbeda dengan sitoskeleton mikrotubulus pada manusia yang mengalami kerusakan. Selain itu juga ada perbedaan lain yakni mitokondria pada tupai tanah responnya berbeda saat mendapat suhu dingin jika dibandingkan pada manusia.

Sel manusia secara khusus menghasilkan jenis oksigen reaktif (ROS) tinggi yang bisa menghancurkan mikrotubulus. Selain itu sela manusia juga bermasalah pada lisosom yang bisa membuat enzim protease untuk mencerna mikrotubulus bocor. Sehingga peneliti membuat sel non aktif untuk hibernasi menggunakan dua obat.

Obat pertama untuk menghambat prostease dan yang kedua untuk mengurangi produksi ROS. Kombinasi obat tersebut bisa mempertahankan struktur mikrotubulus saat terkena suhu dingin. Peneliti juga membuat model hibernaasi (sajian hibernasi) dengan mengambil sel hewan tupai tanah untuk dijadukan sel induk majemuk.